Konflik AS–Iran Memanas, Harga Minyak Tembus US$91: Apa Dampaknya bagi Indonesia?

Konflik AS–Iran Memanas, Harga Minyak Tembus US$91: Apa Dampaknya bagi Indonesia?

Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali mengguncang pasar energi dunia. Pada perdagangan terbaru, harga minyak mentah Brent bergerak di sekitar US$91 per barel, setelah ketidakpastian mengenai hubungan kedua negara dan situasi di Selat Hormuz kembali meningkat. Reuters melaporkan kekhawatiran pasar terutama berkaitan dengan potensi gangguan distribusi minyak melalui jalur strategis tersebut. (Reuters)

Selat Hormuz menjadi perhatian karena merupakan salah satu jalur utama perdagangan minyak dunia. Ketika lalu lintas kapal di kawasan tersebut terganggu atau terancam, pasar langsung mengantisipasi kemungkinan berkurangnya pasokan dan mendorong harga minyak naik. Pada 18 Agustus 2026, Brent sempat berada di sekitar US$91,30 per barel, jauh di atas rata-rata harga Brent pada Juli yang berada di kisaran US$83,97 per barel. (Trading Economics ID)

Kenaikan harga minyak dunia juga menjadi perhatian bagi Indonesia karena negara ini masih membutuhkan impor minyak untuk memenuhi kebutuhan energi dalam negeri. Jika harga minyak global bertahan tinggi, biaya impor energi dapat meningkat dan memberikan tekanan terhadap neraca perdagangan maupun anggaran negara. Pemerintah sendiri telah menetapkan asumsi harga minyak dalam APBN 2026 sebesar US$70 per barel, sehingga harga pasar yang jauh lebih tinggi perlu terus dipantau. (Opini Kemenkeu)

Dampaknya bagi masyarakat tidak selalu berarti harga BBM langsung naik. Pemerintah memiliki berbagai kebijakan untuk meredam gejolak harga energi, termasuk subsidi dan pengaturan harga tertentu. Namun, jika kenaikan minyak berlangsung lama, tekanan dapat merambat ke berbagai sektor, mulai dari biaya transportasi, logistik, produksi barang, hingga inflasi. Kementerian ESDM sebelumnya juga mencatat bahwa meredanya ketegangan geopolitik dan pulihnya pasokan global ikut membuat ICP Indonesia Juli 2026 turun menjadi US$81,68 per barel. (ESDM)

Karena itu, perkembangan konflik AS–Iran bukan hanya persoalan geopolitik yang terjadi jauh dari Indonesia. Pergerakan harga minyak dunia dapat memberikan efek berantai terhadap perekonomian nasional. Jika ketegangan kembali mereda dan jalur perdagangan energi normal, tekanan harga dapat berkurang. Sebaliknya, apabila gangguan pasokan semakin parah, Indonesia perlu semakin memperkuat ketahanan energi agar gejolak pasar global tidak terlalu besar dirasakan masyarakat. (Migas)


Sumber: https://unggulan.bwihost.com/berita/konflik-as-iran-memanas-harga-minyak-tembus-us91-apa-dampaknya-bagi-indonesia

Posting Komentar

Send Whatsapp Query