
WASHINGTON, D.C. – Mantan Direktur National Institute of Allergy and Infectious Diseases (NIAID), Dr. Anthony Fauci, menggunakan hak konstitusionalnya berdasarkan Amandemen Kelima Konstitusi Amerika Serikat lebih dari 100 kali dalam sidang Senat AS pada Rabu (29/7). Dengan didampingi tim kuasa hukumnya, Fauci menolak menjawab pertanyaan para senator terkait penanganan pandemi COVID-19 dan dugaan asal-usul virus corona.
Sidang yang dipimpin Ketua Komite Keamanan Dalam Negeri dan Urusan Pemerintahan Senat AS, Senator Rand Paul, berlangsung selama lebih dari dua jam. Dalam kesempatan tersebut, Fauci hanya menyampaikan pernyataan singkat bahwa dirinya memilih untuk tidak memberikan keterangan demi menghindari potensi konsekuensi hukum. Rand Paul kemudian menyatakan akan mengajukan pemungutan suara pekan depan untuk mempertimbangkan langkah penghinaan terhadap Kongres (contempt of Congress) atas penolakan Fauci memberikan kesaksian.
Perdebatan selama sidang kembali memperlihatkan perbedaan pandangan yang tajam antara Partai Republik dan Partai Demokrat terkait penanganan pandemi COVID-19. Senator dari Partai Republik menilai sikap Fauci menunjukkan kurangnya transparansi, sedangkan senator dari Partai Demokrat berpendapat bahwa sidang tersebut lebih bernuansa politik dan berpotensi menjebak Fauci dalam proses hukum.
Meski berlangsung sengit, sidang tersebut tidak menghasilkan bukti baru mengenai asal-usul COVID-19 maupun dugaan bahwa Fauci menutupi informasi terkait penelitian virus. Sejumlah penyelidikan federal hingga kini belum memberikan kesimpulan pasti mengenai sumber awal virus tersebut. Sementara itu, rencana pemungutan suara terkait penghinaan terhadap Kongres diperkirakan akan menjadi babak lanjutan dari penyelidikan yang telah berlangsung selama beberapa tahun terakhir.