
Ancaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di Indonesia diprediksi bakal meluas seiring meningkatnya potensi fenomena iklim Super El Niño. Kombinasi cuaca ekstrem dan kemarau panjang yang dipicu fenomena ini berisiko mempercepat pengeringan vegetasi, sehingga memicu potensi titik panas (hotspot) yang sewaktu-waktu dapat memicu kebakaran hebat.
Pemerintah melalui Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengingatkan bahwa cuaca panas ekstrem ini diperkirakan mencapai puncaknya dalam beberapa bulan ke depan. Sejumlah wilayah langganan Karhutla seperti Riau, Sumatra Selatan, Kalimantan Barat, hingga Kalimantan Tengah kini mulai menetapkan status siaga darurat untuk mempercepat langkah antisipasi di lapangan.
Sebagai bentuk tindakan preventif, satgas gabungan yang terdiri dari TNI, Polri, BPBD, dan relawan mulai memperketat patroli di titik-titik rawan serta mengaktifkan kembali sumur-sumur resapan di area lahan gambut. Selain itu, operasi Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) atau hujan buatan juga terus disiapkan untuk menjaga kelembapan tanah sebelum kekeringan parah terjadi.
Masyarakat dan para pelaku usaha di sektor perkebunan diimbau keras untuk tidak membuka lahan dengan cara dibakar. Kerja sama seluruh pihak sangat krusial demi mencegah terulangnya tragedi asap pekat yang tidak hanya merusak ekosistem dan mengganggu kesehatan, tetapi juga melumpuhkan aktivitas perekonomian daerah.