Syarat Menjadi Pemain Debus
Menjadi pemain debus tidaklah mudah. Seorang pemain debus harus kuat, tabah dan yakin kepada diri sendiri. Mereka pun harus taat menjalankan kewajiban-kewajiban dalam agama islam.
Unsur pemimpin dan pemain atau anggota dalam Debus merupakan unsur penting dalam struktur keanggotaan. Setiap tim Debus mempunyai pemimpin yang disebut Syekh Debus. Pada masa itu Syekh Debus adalah pimpinan tarekat di kampungnya. Ia menjadi motivator bagi pemain dalam ritual permainan Debus. Seorang pemimpin perkumpulan Debus adalah seorang yang dikenal sebagai seorang sepuh yang dituakan. Ia memiliki tingkat ilmu Debus yang lebih mumpuni dari para anggotanya, sehingga ketua Debus memiliki karismatik. Ia yang mengorganisir seluruh kegiatan kelompoknya menentukan anggota yang terlibat dalam suatu aktraksi dan turut berperan dalam menyukseskan suatu acara. Pemimpin juga berperan penting dalam seluruh acara pertunjukan mulai dari tahap persiapan, pelaksanaan acara sampai selesai. Dalam tahap persiapan pemimpin berupaya memberikan perlindungan dan keselamatan magis kepada para anggotanya yang menjadi pemain Debus dengan melakukan kegiatan ritual di malam hari sebelum pertunjukan dilaksanakan. Saat pelaksanaan acara, ketua juga memberikan perlindungan dari kecelakaan yang terjadi selama pertunjukan.
Unsur anggota terbagi menjadi dua kategori keanggotaan, yaitu anggota permainan Debus dan anggota Debus. Anggota permainan Debus adalah anggota yang khusus bermain Debus dan terlibat dalam ritual permainan Debus. Mereka yang tidak terlibat dalam ritual permainan Debus adalah mereka yang hanya belajar ilmu Debus. Anggota Debus ini lebih mengkhususkan kepada belajar ilmu Debusnya daripada untuk seninya. Anggota permainan Debus dibagi lagi menjadi dua kategori keanggotaan, yaitu anggota yang khusus bermain Debus (pemain Debus), dan anggota yang khusus memegang alat musik (pemusik). Pemain Debus sebagian besar adalah orang kampung yang hidup sederhana dari bertani dan berdagang. Biasanya para pemain adalah anggota tarekat dan menjalankan sejumlah pantangan yang dilarang dalam agama Islam (Nasution, 1995: 43).
Banyak syarat-syarat berat yang harus dipenuhi untuk bisa menjadi seorang pemain debus, antara lain yaitu:
a. Umur sepuluh tahun sampai lima puluh tahun, laki-laki dan perempuan, dan beragama Islam.
b. Mereka dididik/dilatih oleh pelatih utama.
c. Latihan silat/latihan membaca wirid sambil berpuasa antara tujuh sampai empat puluh hari.
Para pemain tidak boleh sombong, tidak boleh ingin dipuji dan harus selalu rendah hati. Kalau bertabiat sombong, senjata tajam dan api akan mempan kepada tubuhnya, sedangkan kalau mereka selalu rendah hati dan beriman kepada Allah, senjata tajam dan api tidak akan mempan pada tubuhnya. Dalam setiap permainan Debus selalu dihadirkan (Sunda: nyambat) Sultanul Aulia Syekh Abdul Qodir al Jaelani. Wirid hanya untuk daya tarik bagi penonton.
Banyaknya pemain kesenian tradisional Debus antara 12 sampai 15 orang, yang berfungsi sebagai berikut:
a. 1 orang juru gendang,
b. 1 orang penabuh rebana besar,
c. 2 orang penabuh tingtit atau dogdog,
d. 1 orang penabuh kecrek,
e. 4 orang yang mengumandangkan zikir,
f. 5 orang pelaku atau pemain yang mempertunjukkan kekebalan orang,
g. 1 orang Syekh (dalang) merangkap pelaku atau pemain.
1-2 minggu sebelum diadakannya pertunjukan debus biasanya para pemain akan melaksanakan pantangan-pantangan tertentu agar selamat ketika melakukan pertunjukan, yaitu: (1) tidak boleh minum-minuman keras;
(2) tidak boleh berjudi;
(3) tidak boleh mencuri;
(4) tidak boleh tidur dengan isteri atau perempuan lain; dan lain sebagainya.
Apabila dicermati syarat untuk pemain Debus ini , jelas diartikan sebagai media untuk mengajarkan agama Islam karna dalam agama Islam kita tidak boleh melakukan seperti halnya syarat pemain Debus dan dalam syarat itu diwajibkan beragama Islam dan berpuasa sehingga masyarakat Banten dapat dengan mudah menerima agama Islam tanpa merasakan adanya perubahan kebudayaan.