Indonesia sangat kaya dengan kesenian-kesenian yang unik, bahkan bisa dibilang ekstrem. Keunikan tersebut yang membuat orang tertarik dengan kesenian di indonesia yang beragam. Sebagaimana masyarakat suku bangsa lainnya di Indonesia, orang Banten juga mempunyai berbagai jenis kesenian tradisional. Salah satu diantaranya yang kemudian menjadi label masyarakat Banten adalah debus. Artinya, jika seseorang mendengar kata "debus", maka yang terlintas dalam benaknya adalah "Banten".Salah satu kesenian yang ekstrem bagi orang-orang awam.
Sejarah kesenian Debus di Kabupaten Serang dapat dikatakan masih sangat gelap karena tidak ada sumber-sumber tertulis yang bisa menjelaskan atau mengungkapkan periode Debus sebelum abad 19. Konon, kesenian ini sudah tumbuh sejak ratusan tahun lalu pada abad ke 16 atau sekitar tahun 1532-1570, pada masa pemerintahan Sultan Maulana Hasanudin. Namun tidak sedikirlt juga yang menyebutkan bahwa debus berasal dari daerah timur tengah bernama Al-Mahdad yang di perkenalkan ke Banten. Dan ada juga yang menyebutkan bahwa debus berasal dari tarekat Rifa'iyah Nuruddin Al-Raniri yang masuk banten oleh para pengawal Cut Nyak Dien pada tahun 1848-1908. Periode yang mulai terang adalah ketika masa mendekati awal kemerdekaan yaitu tahun 1938 ketika di Kabupaten Serang berdiri kelompok seni Debus di
Kecamatan Walantaka, itu pun dengan sumber sumber yang terbatas.
Kesenian Debus adalah seni pertunjukan yang merupakan kombinasi dari seni tari, seni suara, dan seni olah batin yang bernuansa magis.Debus adalah suatu kesenian bela diri yang menunjukkan kemampuan seseorang yang sangat luar biasa. Kemampuan yang dimaksud yaitu kebal terhadap senjata-senjata tajam, kebal terhadap air keras, bahkan ada juga yang berani mengunyah pecahan kaca.
Kesenian ini tumbuh dan berkembang bersamaan dengan berkembangnya agama Islam di Banten. Pada awalnya kesenian ini mempunyai fungsi sebagai penyebaran agama Islam. Karena sebelum melakukan debus para pemain melantunkan sholawat dan puji-pujian kepada Nabi Muhammad SAW. Akan tetapi pada masa penjajahan Belanda, seni ini digunakan untuk membangkitkan semangat perjuangan rakyat Banten. Dewasa ini, seiring dengan perkembangan zaman, kesenian ini hanya berfungsi sebagai sarana hiburan semata.
Debus pada dasarnya terbagi atas 2 (dua) aliran, yaitu Debus Tarekat dan Debus ilmu. Debus Ilmu merupakan kemampuan/kekuatan yang diperoleh di luar jalur tarekat. Debus ini dapat berupa tirakat dan mantra-mantra dalam bahasa daerah (kejawen). Debus Tarekat merupakan kemampuan/kekuatan batin yang diperoleh melalui amalan suatu ajaran tarekat, biasanya pelaku Debus Tarekat dalam atraksinya selalu menyertakan lafadz kalimat Toyyibah, seperti Lailahailallah atau cukup Allah saja seperti amalannya para Sufi.
Seperti telah diuraikan di atas, seni tradisional Debus diduga disebarkan melalui ajaran tarekat Islam. Untuk mengetahui asal usul seni permainan ini maka akan ditelusuri terlebih dahulu apa sebenarnya tarekat itu.
Tarekat adalah pengamalan syariat yaitu hukum-hukum yang telah diturunkan Allah kepada Nabi Muhammad SAW yang telah ditetapkan oleh ulama melalui sumber al-Quran dan sunnah. Kata tarekat dapat dilihat dari dua sisi, yaitu sisi amal ibadah dan dari sisi organisasi atau perkumpulan. Tarekat yang berkaitan dengan keberadaan Debus adalah tarekat dari sisi organisasi yang berarti sekumpulan salik yaitu orang yang melakukan suluk atau latihan kejiwaan, yang menjalani latihan kerohanian tertentu dengan tujuan mencapai tingkat tertentu yang dibimbing oleh seorang guru. . Tujuan dari tarekat ini adalah mempertebal iman dalam hati pengikut-pengikutnya (Nasution, 1995: 128).
Sementara itu di Indonesia terdapat dua aliran Debus yang terkenal, masing-masing berasal dari aliran tarekat Qadiriyah, yaitu tarekat yang dinisbatkan pendirinya Abdul Qadir al Jailani, dan Rifaiyah, yaitu aliran yang didirikan Muhammad ar Rifa’i seorang tokoh sufi besar yang hidup sejaman dengan Syekh Abdul Qadir al-Jailani (Nasution, 1995:53). Tarekat Rifaiyah didirikan di Irak, tepatnya di Qaryah Hasan dekat Kota Basrah pada abad ke-6 Hijriah atau 1106 Masehi. Tarekat Rifaiyah terke-nal dengan amalannya berupa penyiksaan diri dengan melukai bagian-bagian badan dengan senjata tajam diiringi oleh zikir-zikir tertentu. Apabila ada yang luka, gurunya akan menyembuhkan luka itu dengan air liurnya sambil menyebut nama pendiri tarekat. Kedua aliran ini dapat ditemui di daerah-daerah tertentu saja. Aliran tarekat Qadiriyah ditemui di daerah Sumatra Barat dan Banten sedangkan tarekat Rifaiyah dapat ditemui di daerah Aceh, Minangkabau, dan Banten (Muzakki, 1990: 52).
Tarekat lain yang juga dikaitkan dengan Debus adalah tarekat Sammaniyah dalam Debus Banten (Nasution, 1995: 6). Tarekat Sammaniyah didirikan oleh Syeikh Muhammad Samman, biasanya mereka melakukan zikir dengan suara lantang seperti tampak dalam Tari Saman Aceh. Syekh Samman telah dipandang sebagai wali yang selalu dimintai perlindungannya dalam permainan Debus. Di daerah Banten jejak aliran tarekat paling jelas menunjuk pada tarekat Sammaniyah dan Rifaiyah. Kedua aliran tarekat itu tumbuh subur karena asosiasi yang kuat dengan Debus.
Sumber sejarah lainnya menyebut-kan, Debus ada hubungannya dengan tarekat Rifaiah yang dibawa oleh Nuruddin Ar-Raniry ke Aceh pada abad ke-16. Tarekat ini berprinsip bahwa ketika seseorang dalam kondisi sedang trance dalam zikirnya ia kerap menghantam berbagai benda tajam ke tubuhnya dan dia tidak akan merasakan apa pun karena dia sedang pada tingkat epiphany, yaitu kegembiraan yang tidak terhingga karena ‘bertatap muka’ dengan Tuhan. Filosofi yang dapat ditangkap adalah "la haula walaa quwwata illaa billaahil aliyyil adhiim" atau “tiada daya upaya melainkan karena Allah semata". Maksudnya, jika Allah tidak mengizinkan pisau, golok, parang atau peluru sekalipun melukai tubuh seseorang, maka orang itu tidak akan terluka.
Sebagian besar di Banten, Cirebon dan Priangan, Debus “intinya” merupakan media dakwah dengan menggunakan amalan-amalan al-Hikmah dari ajaran tarekat di daerah masing-masing penyebar-an. Tetapi ada juga sebagian yang bermain Debus masih menggunakan amalan jangjawokan (amalan untuk mendapatkan kesaktian), seperti di daerah Ujung Berung Atas, Cilengkrang, yang masih kuat Sunda Wiwitannya (Purnama, 1998: 64).