MANFAAT
DEBUS BAGI KEHIDUPAN

Debus merupakan suatu bentuk permainan kekebalan
yang dilakukan seseorang terhadap benda tajam.Permainan tersebut, kini lebih
dikenal sebagai suatu bentuk kesenian yang unik dan langka, yang hanyaoleh
beberapa wilayah tertentu saja di Indonesia. Adapun wilayah tersebut,
diantaranya adalah JawaBarat, Sumatera Barat dan Aceh.
Debus, timbul dan muncul di Jawa Barat sejalan
dengan awal masuknya agama Islam. Debus sendirisebenarnya lahir dari kebudayaan
Islam untuk menarik, masyarakat memeluk agama Islam. Oleh karena itu,debus
dikembangkan oleh para guru agama atau syeh yang menjadi pimpinan
sLlatL(kelompok tarekat tertentu. Di Indonesia, khususnya di Jawa Barat, aliran
tarekat yang mengembangkan debus ini adalah alirantarekat Qadiriyah dan
Pi-raiyah.Pada masa kini, debus tetap eksis dan dapat disaksikan peragaan
permainannya. keberadaan debus yang cukup unik ini, menarik untuk dikaji dan
diamati. Da1am penelitian ini, pokok kajian tertuju pada masalahfungsi debus
dalam sistem budaya masyarakat Banten dan proses perubahan yang dihadapi debus
masa kini.Hasil penelitian memperlihatkan bahwa keberadaan debus hingga kini
dilandasi pada keberlangsungan fungsi debus sendiri yang masih dipertahankan,
baik ke dalam sistem debus maupun ke luar yaitu sistem budaya masyarakat
pendukungnya, Debus melakukan perubahan dan modifikasi, untuk tetap debus dapat
bertahan dan menarik untuk disaksikan oleh masyarakat pada masa kini.
Dahulu, debus selain menjadi media untuk penyebaran
agama Islam di Banten juga menjadi sebuah alat untuk memompa semangat juang
rakyat banten melawan penjajah Belanda pada masa Sultan Ageng Tirtayasa,"
kata Ketua Umum Paku Banten Center Indonesia Rosyadi MN saat berbincang di
kediamannya.
Saat ini, kata Rosyadi, debus merupakan kesenian
bela diri yang mempertunjukan kemampuan manusia yang luar biasa dan tidak masuk
akal seperti kebal senjata tajam, kebal air keras, makan paku, makan beling dan
yang lainnya.
"Sekarang semakin banyak acara yang memamerkan
aksi debus, di acara pemerintahan, dihadapan para wisawatan sampai pesta
pernikahan dipertontonkan debus," ujarnya.
Namun, bagi sebagian masyarakat awam kesenian Debus
terlihat sangat ekstrim dan menakutkan. "Memang kelihatan ekstrim. Tapi
kalau sudah tahu cara memainkannya sama saja dengan bela diri lainnya,"
kata dia.
Dia menyebutkan, berbagai atraksi yang biasa dipertunjukan seperti menusuk
perut dengan tombak atau senjata tajam lainnya tanpa terluka, mengiris bagian
anggota tubuh dengan pisau atau golok. Kemudian, menusukkan jarum kawat ke lidah, kulit pipi atau anggota tubuh lainnya hingga tebus tanpa mengeluarkan darah, menyiram tubuh dengan air keras hingga pakaian yang dikenakan hancur lumat namun kulit tetap utuh.
"Menggoreng telur di atas kepala, bermain bola api, berguling diserpihan beling, tidur diatas tajamnya paki hingga menaiki tangga dengan susunan golok tajam," ucapnya.
Saat bermain, sholawat dan musik tradisional akan terus dilantunkan hingga berakhirnya atraksi oleh para pengiring.
Dia menegaskan, kesenian debus tidak ada kaitannya sama sekali dengan ilmu sihir atau magis yang sudah jelas dilarang oleh ajaran agama islam. Hanya saja keahlian dari para pemainnya. Pada masa lalu pertunjukkan debus dilaksanakan di suatu ruangan di dalam Masjid Agung Banten yang disebut 'Gedung Tiyamah', yaitu sebuah banguanan tak jauh dari Masjid Agung Banten. Selama pertunjukan Debus berlangsung biasanya dipimpin oleh seorang atau dua orang guru yang disebut Khalifah atau Syekh yang bertanggung jawab terhadap kelancaran permainan dan menjaga keselmatan para pemain Debus. Pada mulanya permainan ini hanya dimainkan oleh kaum Adam, namun saat ini tidak jarang diminati pula oleh kaum perempuan.
Kesenian ini
tumbuh dan berkembang sejak ratusan tahun yang lalu, bersamaan dengan berkembangnya
agama islam di Banten. Pada awalna kesenian ini mempunyai fungsi sebagai
penyebaran agama, namun pada masa penjajahan belanda dan pada saat pemerintahan
Sultan Agung Tirtayasa. Seni beladiri ini digunakan untuk membangkitkan
semangat pejuang dan rakyat banten melawan penjajahan yang dilakukan belanda.
Karena pada saat itu kekuatan sangat tidak berimbang, belanda yang mempunyai
senjata yang sangat lengkap dan canggih. Terus mendesak pejuang dan rakyat
banten, satu satunya senjata yang mereka punya tidak lain adalah warisan
leluhur yaitu seni beladiri debus, dan mereka melakukan perlawanan secara
gerilya.
Menurut
Sandjin Aminuddin, seorang tokoh Banten mengungkapkan bahwa pengaruh seni Debus
terhadap masyarakat cukup luas, antara lain sebagai berikut:
- Kesenian Debus bergerak dibidang kekebalan. Kekebalan identik dengan bela diri. Dengan demikian kesenian ini mudah dicintai.
- Masyarakat Banten umunya fanatic agama, sehingga hanya kesenian yang bermanfaat bagi agamalh yang bias berkembang di masyarakat. Kesenian Debus selalu membawakan dzikiran yang memuji dan mengagungkan Allah dan Rasulullah SAW.
- Kesenian Debus merupakan kesenian yang langka dan digemari oleh masyarakat sebagai hiburan rakyat.
- Para Alim Ulama menganggap kesenian Debus tidak bertentangan dengan ajaran Agama Islam.
Inti
pertunjukan masih sangat kental gerakan silat atau beladiri dan penggunaan
senjata. Kesenian debus banten ini banyak menggunakan dan memfokuskan di
kekebalan seseorang pemain terhadap serangan benda tajam, dan semacam senjata
tajam ini disebut dengan debus.
Kesenian ini
tumbuh dan berkembang sejak ratusan tahun yang lalu, bersamaan dengan
berkembangnya agama islam di Banten. Pada awalna kesenian ini mempunyai fungsi
sebagai penyebaran agama, namun pada masa penjajahan belanda dan pada saat
pemerintahan Sultan Agung Tirtayasa.
Seni
beladiri ini digunakan untuk membangkitkan semangat pejuang dan rakyat banten
melawan penjajahan yang dilakukan belanda. Karena pada saat itu kekuatan sangat
tidak berimbang, belanda yang mempunyai senjata yang sangat lengkap dan canggih.
Terus mendesak pejuang dan rakyat banten, satu satunya senjata yang mereka
punya tidak lain adalah warisan leluhur yaitu seni beladiri debus, dan mereka
melakukan perlawanan secara gerilya.
Debus dalam
bahasa Arab yang berarti senjata tajam yang terbuat dari besi, mempunyai ujung
yang runcing dan berbentuk sedikit bundar. Dengan alat inilah para pemain debus
dilukai, dan biasanya tidak dapat ditembus walaupun debus itu dipukul berkali
kali oleh orang lain.
Atraksi
kekebalan badan ini merupakan variasi lain yang ada dipertunjukan debus. Antara
lain, menusuk perut dengan benda tajam atau tombak, mengiris tubuh dengan golok
sampai terluka maupun tanpa luka, makan bara api, memasukkan jarum yang panjang
ke lidah, kulit, pipi sampai tembus dan tidak terluka. Mengiris anggota tubuh
sampai terluka dan mengeluarkan darah tetapi dapat disembuhkan pada seketika
itu juga, menyiram tubuh dengan air keras sampai pakaian yang melekat dibadan
hancur, mengunyah beling/serpihan kaca, membakar tubuh. Dan masih banyak lagi
atraksi yang mereka lakukan.
Dalam
melakukan atraksi ini setiap pemain mempunyai syarat syarat yang berat, sebelum
pentas mereka melakukan ritual ritual yang diberikan oleh guru mereka. Biasanya
dilakukan 1-2 minggu sebelum ritual dilakukan.
Globalisasi membawa perubahan yang berarti dan berguna untuk masyarakat,
contoh seperti edukasi, life style dan lain-lain, akan tetapi globalisasi tanpa
sadar menggeser budaya yang telah menjadi ikon di suatu wilayah seperti Debus.Dalam Tulisan ini saya akan membahas tentang Debus dalam Era Globalisasi.
Tetapi sebelum membahas hal tersebut saya akan mejelaskan apa itu debus, bagaimana sejarahnya hingga bisa masuk ke dalam budaya Indonesia?