LATAR
BELAKANG DAN FUNGSI SENI DEBUS

Asal-usul
kesenian debus tidak dapat dipisahkan dan penyebaran agama Islam di Indonesia.
Debus tumbuh di Banten sebagai alat untuk menyebarkan agama Islam di daerah
Banten yang masih menganut ajaran Hindu dan Budha. Tetapi pada masa
pemerintahan Sultan Ageng Tirtayasa pada abad ke 17 Masehi (1651-1652), debus
difokuskan sebagai alat untuk membangkitkan semangat para pejuang dalam melawan
penjajah Belanda (Sandjin A, 1997:156). Oleh karenanya kesenian tersebut lebih bersifat
kesenian beladiri dan pemupukan percaya din. Dalam rangka mempertebal semangat
prajurit dan pejuang-pejuang Banten, Sultan Ageng Tirtavasa memberikan suatu
pengetahuan tentang ilmu kekebalan tubuh kepada para pengikutnya dengan
memberikan pelajaran ayat-ayat suci Al-Quran. Ayat-ayat tersebut dihafalkan dan
diresapi secara mendalam sehingga dapat mempertebal semangat moral dalam
melawan penjajah Belanda. Oleh karena itu lahirnya debus di daerah Banten
adalah sebagai akibat adanya perlawanan rakyat Banten terhadap Belanda yang
dilandasi oleh ajaran agama Islam sebagai pembentuk semangat dan keyakinan
dalam melakukan perjuangan.
Pendapat
lain mengatakan bahwa pada masa Sultan Maulana Hasanuddin (1552-1570) digunakan
sebagai seni untuk memikat masyarakat Banten yang masih memeluk agama Hindu dan
Budha dalam rangka penyebaran agama Islam. Kesenian ini mempertontonkan
kekuatan tubuh terhadap senjata tajam atau benda keras atau yang disebut dengan
debus.
Pada masa
lalu pertunjukkan debus dilakukan di suatu ruangan di dalam Mesjid Banten yang
disebut dengan “tiama”, yaitu pada tingkat dua dan bangunan mesjid. Selama
pertunjukkan berlangsung di pimpin oleh seorang atau dua orang guni yang
disebut Khalifah atau Syekh yang bertanggung jawab terhadap kelancaran permainan
dan menjaga keselamatan para pemain. Pada mulanya permainan debus di peragakan
oleh kaum laki-laki, tetap setelah mengalami perkembangan, seni debus diminati
pula oleh kaum perempuan.
Menurut
Sandjin Aminuddin (1997:156-157) pengaruh seni debus terhadap masyarakat cukup
luas, karena faktor-faktor sebagai berikut:
1. Kesenian debus begerak dibidang
kekebalan. Kekebalan identik dengan bela din. Dengan demikian kesenian ini
disenangi Masyarakat Banten umumnya fanatik agama, sehingga hanya kesenian yang
bermanfaat bagi agamalah yang bisa berkembang di masyarakat. Kesenian yang
berkembang di masyarakat pada waktu itu adalah Rebana, Kasidah, Mawalan yang
bernafaskan keagamaan. Sedangkan kesenian debus selalu membawakan dzikiran yang
memuji dan mengagungkan Tuhan Yang Maha Esa dan Nabi Muhammad.
2. Kesenian debus merupakan kesenian
yang langka dan digemari oleh masyrakat sebagai hiburan yang menarik.
3. Kesenian debus dari Rakyat, oleh
Rakyat dan untuk Rakyat sehingga mudah diterima oleh rakyat.
4. Para Aiim Ulama menganggap kesenian
debus tidak bertentangandengan fahamnya dan mereka menerimanya.
Salah satu
kesenian debus yang cukup populer di Banten adalah Seni Debus Surosowan Banten
di Kecamatan Walantaka Serang yang dipimpin oieh Moh. Idris. Persyaratan yang
hams ditempuh untuk mempertunjukkan debus Surosowan adalah sebagai berikut:
a.
Melakukan puasa selama 40 han
b.
Setiap selesai sholat fardu membaca Bismillah sebanyak-bayaknya.
c.
Membaca wiridan sebanyak sebelas kali
“Bismillahirrohmanirrohim”
Inna
‘AtoinakalKautsarFasholliliwa liwali warba
Tulungpara
wali sakabeh, mangka welas mangka asih
Atine wong
sadunia madeleng maring isun, berkahna Lailahaiilallah
Muhammaddurasulullah.
“Bismillahirrohmanirrohim”
Bima bayu
ongedek agu geni murud mati ciening aku.
Repsirep atine
wong sadunia madeleng maring isun, berkahna
Lailahaillallah
Muhammaddurasulullah.
d.
Harus yakin dengan apa yang dipelajarinya dan diamalkannya.
e.
Menjauhi larangan yang telah ditetapkan dalam agam Islam seperti larangan 5 M
(Maling, Maen, Madon, Minum dan Madat).
Tahap-tahap
pertunjukkan debus dilakukan sebagai berikut:
1. Pembukaan (Gembung), yaitu pembacaan
sholawat dan puji-pujian yang diiringi instrumen musik tabuh selama 2 3 menit.
2. Peiaksanaan dzikir kepada Allah dan
sholawat kepada Nabi dan para Sahabatnya sambil diiringi tabuh musik.
3. Beluk, yaitu nyanyian yang dibawakan
oleh pendzikir dengan suara keras, melengking, bersahut-sahutan dan diiringi
dengan tabuh tabuhan. Beluk ini dilakukan sampai dengan pertunjukkan berakhir.
4. Silat, ketika beluk dimulai maka
keluarlah satu orang atau dua orang yang pesilat mendemonstrasikan kebolehannya
dalam bersilat dengan tangan kosong.
5. Permainan Debus, dua orang
menggunakan peralatan debus: satu orang memegang Almadad (Gedebus) ditempelkan
keperutnya dan satu orang lagi memegang pemukul atau gada yang siap dipukulkan
ke Almadad.
6. Mengupas kelapa dengan menggunakan
gigi. Setelah selesai kelapa dikupas dipecahkan dan dipukulkan ke kepala hingga
pecah. Setelah kelapa tersebut pecah maka dimakan berikut tenpurungnya
sekalian.
7. Mengerat bagian tubuh seperti
lengan, betis dan paha dengan menggunakan pisau atau parang.
8. Menggoreng kerupuk dan telur di atas
kepala. Di atas kepala seorang pemain diletakkan sejenis tungku api yang
terbuat dari buah kelapa yang dibelah, kemudian diisi dengan kain yang sudah
direndam dengan minyak tanah lalu dibakar. Setelah api menyala maka diletakkan
wajan yang telah diisi dengan minyak kelapa dan setelah mendidih barn
dimasukkan telur dan kerupuk untuk digoreng.
9. Membakar anggota tubuh dengan api
dan menyisir rambut dengan api
10. Menaiki dan menduduki tangga golok
yang tajam
11. Memakan kaca
Gemrung,
yaitu permainan instrumen untuk mengakhiri pertuniukkan. Dewasa ini kesenian
debus bisanya dipertunjukkan sebagai pelengkap upacara adat, upacara Magic, dan
untuk menghibur masyarakat.
Debus
merupakan pertunjukkan seni secara berkelompok. Pemainnya sebanyak 12 sampai 15
orang, yang masing-masing pemain mempunyai tugas sebagai berikut:
a. 1 orang
Juru Gendang
b. 1 orang
Penabuh Terbang (Rebana l3esar)
c. 2 orang
Penabuh Dogdog Tingtit
d. 1 orang
Penabuh Kecrek
e. 4 orang
sebagai Pendzikir
f. 5 orang
Pemain Atraksi
g. 1 orang
sebagai Sychu
Sedangkan
waditra yang biasanya digunakan adalah:
a.
Sebuah gendang tanggung yang berfungsi sebagai pengiring gerak tan. Gendang
tanggung ini lebih kecil dan gendang degung dan lebih besar dan kulantar yang
bagian depan bergaris tengah 20 atau 25 cm. Garis tengah bagian belakang kurang
lebih 15 cm serta mempunyai panjang 50 cm.
b. 2 buah
Kulantar (Gendang Kecil) merupakan pelengkap gendang tanggung. Gendang ini sama
seperti layaknya kulantar pada gamelan degung
c.
Sebuah terbang (Rebana Besar) yang berfungsi sebagai Goong, terbang ini terbuat
dari kayu dan kulit kerbau yang bagian depannya bergaris tengah 60 cm, bagman
belakang 40 cm serta mempunyai tebal 25 cm.
d. 2 buah
tingtit (dogdog kecil), terbuat dari kayu dan kulit kerbau seperti dogdog yang
digunakan dalam permainan reog. Alat ini mempunyai garis tengah bagian depan 15
cm.
e. 1 buab
kecrek yang berfungsi sebagai pengatur serta memantapkan gerakan pemain. Kecrek
ini terbuat dari beberapa keping logam (perunggu tipis) yang berbentuk
lingkaran yang bergaris tengah 15 cm dan ketebalan 0,3 cm.
Selain itu
terdapat juga peralatan yang digunakan untuk atraksi debus, seperti Atmadad
(Gedebus) dan Gada. Almadad adalah sejenis besi tajam yang bergagang kayu
dengan bentuk bulat panjang berukuran 0,5 cm. Sedangkan gada berfungsi sebagai
alat pernukul. Selain itu digunakan juga alat Iainnya seperti golok, pisau,
jarum, paku dan suet.
Busana yang
digunakan dalam pertunjukkan seni debus didominasi oleh warna hitam yang
terdiri dari:
a. Baju
Kampret yaitu baju tanpa kerah yang mempunyai kantong 2 buah dibagian bawah kin
dan kanan, serta bertangan panjang.
b. Celana
Pangsi yaitu celana yang dibuat tanpa ikat pinggang. Bila dipakai digilung
seperti memakai sarung dan banu diberi ikat pinggang. Ukuran bagian kaki cukup
lebar untuk memudahkan bergerak dalam beratraksi.
c. Lomar
(Ikat Kepala) terbuat dari kain batik, berbentuk segi tiga atau segi empat yang
dilipat menjadi segi tiga