KESENIAN
DEBUS DALAM ERA GLOBALISASI
Perubahan zaman, telah merubah sistem, nilai, budaya
serta tradisi. Perubahan zaman itu tidak dapat dihindari oleh siapapun,
perubahan memang bukan untuk dihindari tetapi untuk dipelajari, perubahan juga
tidak 100% mengubah. Ini adalah tahap pembelajaran, belajar bagaimana
berinteraksi antar sesama dalam kondisi yang berbeda, berkomunikasi satu sama
lain untuk membangun dan memajukan suatu peradaban, manusia tidak dapat hidup
dalam kehidupan yang statis mereka membutuhkan sesuatu yang sifatnya dinamis,
ini dikarenakan kebutuhan manusia yang tidak ada habisnya dan selalu
berkembang, selain itu juga untuk mencari apa yang mereka anggap kepuasan,
mereka belajar juga untuk menerima resiko, dan bagaimana menyelesaikan masalah
tersebut.
Globalisasi membawa perubahan yang berarti dan
berguna untuk masyarakat, contoh seperti edukasi, life style dan lain-lain,
akan tetapi globalisasi tanpa sadar menggeser budaya yang telah menjadi ikon di
suatu wilayah seperti Debus.
Dalam Tulisan ini saya akan membahas tentang Debus dalam
Era Globalisasi.
Tetapi sebelum membahas hal tersebut saya akan
mejelaskan apa itu debus, bagaimana sejarahnya hingga bisa masuk ke dalam
budaya Indonesia?
Debus merupakan kesenian bela diri dari Banten yang
mempertunjukan kemampuan fisik manusia yang disiksa (seperti ditusuk, disayat,
diiris, dibakar dan lain-lain) dengan menggunakan benda-benda yang berbahaya
bagi tubuh tanpa mengalami luka sedikitpun. , Debus juga dalam bahasa Arab
berarti tongkat besi dengan ujung runcing berhulu bundar.
Bagi sebagian masyarakat awam, kesenian Debus memang
tergolong sangat ekstrim. Karena dalam prakteknya kesenian ini memperlihatkan
adegan dimana seseorang yang dengan sengaja menyakiti tubuh mereka sendiri.
Saat ini Debus sebagai seni beladiri banyak dipertontonkan untuk acara kebudayaan, upacara adat ataupun
hiburan, untuk saat ini hiburan debus sudah tidak seramai dulu.
Sejarahnya
Sejarahnya Debus merupakan kesenian asli masyarakat
Banten yang diciptakan pada abad ke-16, yaitu tepatnya pada masa pemerintahan
Sultan Maulana Hasanuddin (1532-1570), dalam rangka penyebaran agama Islam.
Agama Islam diperkenalkan ke Banten oleh Sunan Gunung Jati, salah satu pendiri
Kesultanan Cirebon, pada tahun 1520, dalam ekspedisi damainya bersamaan dengan
penaklukan Sunda Kelapa.
Kemudian, ketika kekuasaan Banten dipegang oleh
Sultan Ageng Tirtayasa (1651-1682), debus difokuskan sebagai alat untuk
membangkitkan semangat para pejuang dalam melawan penjajah Belanda. Apalagi, di
masa pemerintahannya tengah terjadi ketegangan dengan kaum pendatang dari
Eropa, terutama para pedagang Belanda yang tergabung dalam VOC. Kedatangan kaum
kolonialis ini disatu sisi membangkitkan semangat jihad kaum muslimin
Nusantara, namun disisi lain membuat pendalaman akidah Islam tidak merata,
yaitu terjadinya percampuran akidah dengan tradisi pra-Islam. Hal ini yang
terdapat pada kesenian debus.
Permainan debus merupakan bentuk kesenian yang
dipadukan dengan seni tari, seni suara dan seni kebatinan yang bernuansa magis.
Kesenian debus biasanya disuguhkann sebagai pelengkap upacara adat, atau untuk
hiburan masyarakat. Pertunjukan ini dimulai dengan pembukaan (gembung), yaitu
pembacaan sholawat atau lantunan puji-pujian kepada Nabi, dzikir kepada Allah,
diiringi instrumen tabuh selama tiga puluh menit. Acara selanjutnya adalah
beluk, yaitu lantunan lafadz dzikir dengan suara keras, melengking,
bersahut-sahutan dengan iringan tetabuhan. Bersamaan dengan beluk, atraksi
kekebalan tubuh didemonstrasikan sesuai dengan keinginan pemainnya. Seperti :
menusuk perut dengan tombak tanpa luka, mengiris anggota tubuh dengan pisau
atau golok, memakan api, memasukkan jarum kawat ke dalam lidah/pipi sampai
tebus tanpa mengeluarkan darah, mengiris anggota tubuh sampai terluka dan
mengeluarkan darah tapi dapat disembuhkan seketika itu juga hanya dengan
mengusapnya, menyiram tubuh dengan air keras sampai pakaian yang dikenakan
hancur lumat namun kulitnya tetap utuh. Selain itu juga ada atraksi menggoreng
kerupuk atau telur di atas kepala, membakar tubuh dengan api, menaiki atau menduduki
tangga yang disusun dari golok yang sangat tajam, serta bergulingan di atas
tumpukan kaca atau beling. Atraksi ini diakhiri dengan gemrung, yaitu permainan
alat-alat musik tetabuhan.
Terlepas dari aspek di atas, tradisi kedaerahan
seperti debus mengambil peran di kehidupan bermasyarakat, diantaranya:
1. Kesenian debus sebagai potensi wisata, yang
merupakan ciri daerah bangsa Indonesia.
2. Untuk
melestarikan/menjaga seni budaya daerah yang semakin lama semakin hilang.
3. Sebagai
simbol atau ciri khas dari sebuah daerah.
Pada saat ini banyak pendekar debus yang tinggal di
Desa Walantaka, Kecamatan Walantaka, Kab. Serang. Namun sayangnya keberadaan
debus makin lama semakin berkurang, karena para pemain debus mulai mencari
pekerjaan yang lebih menjanjikan, mereka menilai penghasilan dari bermain debus
kurang menjanjikan. Selain itu generasi muda juga telah termakan arus
globalisasi mereka cenderung menyukai teknologi.
Memang saat ini zaman telah berubah, bukan lagi
zaman penjajahan, dahulu Debus digunakan sebagai alat pertahanan diri dari
serangan tentara kolonial, dan ini meninggalkan sebuah citra Banten, yaitu
Banten tanah Jawara.
Seiring perubahan zaman, Zaman penjajahanpun telah
berakhir, kini Debus beralih fungsi, saat ini Debus digunakan sebagai hiburan.
Untuk hiburan pun Debus kalah saing, karena Globalisasi telah membawa hiburan
yang lebih menarik untuk masyarakat Indonesia terutama di Banten, sehingga
Debus semakin terpinggirkan.
Pemerintah saat ini kurang memperhatikan Kesenian
Debus, itulah yang dirasakan oleh para pemain debus. Tetapi Pemerintah juga
tidak hanya tinggal diam dan menerima pendapat begitu saja.
Pada tanggal 21 juni 2014 telah diadakan Festival
Debus Banten 2014, Pemerintah juga ikut bekerja sama dalam acara tersebut.
Menurut Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata
Provinsi Banten Endrawati menjelaskan, Debus Banten adalah warisan banten
sesuai Surat Keputusan (SK) Kementrian Pendidikan dan kebudayaan.
“Dalam hal ini kebersamaan untuk melestarikan
kesenian dan kebudayaan banten siperlukan tiga unsur yaitu, pengamanan,
pengembangan, kemanfaatan, artinya kesenian dan kebudayaan Banten jangan sampai
punah atau diakui oleh daerah lain untuk itu kita harus siap menampilkan
kehadapan pulik agar mencuat kesenian dan ke budayaan yang ada di banten sehingga
bisa menggiring wisatawan daerah dan manca negara untuk datang kebanten yang
biasa di sebut sebagian orang sebagai tanah jawara,” terang Endrawati.
Lanjut Endrawati, Ada tiga hal yang di ketahui
masyarakat luar soal banten yaitu kental dengan Jawara, ulama dan baduy, itu
jelas tidak bisa terpisahkan dari banten, untuk itu kita tidak menampilkan
unsur isu kekerasan dan isu jawara melainkan yang akan kita tampilkan kesenian
pertunjukan debusnya itupun pertunjukannya debus yang ringan saja dan tidak menampilkan
debus yang ekstrim seperti memotong tangan dengan golok tajam melainkan
pertunjukan debus yang di anggap ringan seperti memasak telur di kepala karena
sebetulnya yang di masukan dari rekor muri adalah panjang dan banyaknya peserta
pemain pertunjukan debus.
“Kita sebagai orang banten harus peduli dengan
kesenian dan budaya banten demi selalu menjaga kelestariannya, polda banten
saja yang tidak ada keterkaitan dalam hal ini tapi polda banten peduli, masa
masyarakat banten tidak mau peduli, apalagi saya sebagai kepala dinas
kebudayaan dan pariwisata dan juga orang banten saya harus betul peduli dengan
banten,” tambah Endrawati.
Dan itulah cara yang telah dilakukan pemerintah agar
Kesenian Debus tidak punah di telan zaman, dan seharusnya mereka juga memperhatikan
juga kesejahteraan seniman Debus. Kita sebagai generasi muda banten juga harus
mampu melestarikan Kesenian Debus, agar Debus mampu bersaing dan terlihat di
kancah internasional.