Filosofi Debus
Indonesia merupakan salah satu negara yang memiliki banyak keanekaragaman seni budaya dan tradisi. Masyarakat Indonesia sendiri memiliki keinginan untuk melestarikan tradisi tersebut agar selalu terjaga dan tidak diakui oleh negara lain. Adanya keanekaragaman seni budaya dan tradisi membuat masyarakat memiliki ciri khas tersendiri.
Salah satu contoh keanekaragaman seni budaya yang masih dilestarikan sampai sekarang yaitu Debus. Debus adalah kesenian bela diri yang berasal dari Banten yang menunjukan kemampuan manusia yang luar biasa. Debus dalam bahasa Arab yang berarti senjata tajam yang terbuat dari besi, mempunyai ujung yang runcing dan berbentuk sedikit bundar. Dengan alat inilah para pemain Debus dilukai, dan biasanya tidak dapat ditembus walaupun Debus itu dipukul berkali- kali oleh orang lain. Atraksi atraksi kekebalan badan ini merupakan variasi lain yang ada dipertunjukan Debus. Antara lain, menusuk perut dengan benda tajam atau tombak, mengiris tubuh dengan golok sampai terluka maupun tanpa luka, makan bara api, memasukkan jarum yang panjang ke lidah, kulit, pipi sampai tembus dan tidak terluka. Mengiris anggota tubuh sampai terluka dan mengeluarkan darah tetapi dapat disembuhkan pada seketika itu juga, menyiram tubuh dengan air keras sampai pakaian yang melekat dibadan hancur, mengunyah beling/ serpihan kaca, membakar tubuh, berjalan di atas beling/ serpihan kaca , dan masih banyak lagi atraksi yang mereka lakukan.
Kesenian ini berawal pada masa pemerintahan Maulana Hasanuddin dari Banten pada abad-16 (1532-1570), debus mulai dikenal masyarakat Banten sebagai salah satu cara penyebaran agama Islam. Namun ada juga yang menyebutkan Debus berasal dari daerah Timur Tengah bernama Al-Madad yang diperkenalkan ke daerah Banten ini sebagai salah satu cara penyebaran Islam pada waktu itu. Yang lainnya menyebutkan bahwa debus berasal dari tarekat Rifa’iyah Nuruddin al-Raniri yang masuk ke Banten oleh para pengawal Cut Nyak Dien (1848—1908).
Pada zaman Sultan Ageng Tirtayasa dari Banten (1651—1692), Debus menjadi sebuah alat untuk memompa semangat juang rakyat banten melawan penjajah Belanda pada masa itu. Debus juga digunakan sebagai metode latihan bagi para prajurit untuk membela negara dalam peperangan. Karena permainan ini sudah begitu lama berlangsung sehingga akan sulit jika ditanyakan siapa yang mula-mula menciptakan permainan debus ini.
Kesenian Debus mengambil peran di kehidupan bermasyarakat, diantaranya:
Kesenian debus sebagai potensi wisata, yang merupakan ciri daerah bangsa Indonesia.
Untuk melestarikan/menjaga seni budaya daerah yang semakin lama semakin hilang.
Sebagai simbol atau ciri khas dari sebuah daerah.
Kesenian Debus saat ini merupakan kombinasi antara seni tari, seni suara, dan seni kebatinan yang bernuansa magis. Kesenian ini di gelar sebagai sarana upacara adat atau hanya sekedar sebagai hiburan di masyarakat. Debus tidak hanya ada di Banten, Debus juga sering dijumpai di Aceh dan Minang. Dan kesenian ini sudah tersebar di seluruh Indonesia . Khususnya di Jawa Barat, yang sudah terkenal dengan sebutan Debus Banten. Debus akan melakukan atraksi yang tidak bisa dipikirkan oleh akal sehat. Menurut masyarakat kesenian Debus ini sangat mengerikan dan menakutkan, karena pelaku akan menunjukkan atraksi kekebalan tubuhnya terhadap beraneka ragam senjata tajam yang dipukulkan, ditusukkan, dan sebagainya ke badan pelaku tersebut. Seringkali para orang yang melakukan atraksi Debus ini akan mengatakan jika dirinya sebenarnya tidak terkena benda-benda tajam dan mengerikan tersebut dan tidak merasakan kesakitan.
Kesenian debus yang sering dipertontonkan di antaranya yaitu:
Menusuk perut dengan tombak atau senjata tajam lainnya tanpa terluka.
Mengiris bagian anggota tubuh dengan pisau atau golok.
Memakan api.
Menusukkan jarum kawat ke lidah, kulit pipi atau anggota tubuh lainnya hingga tembus tanpa mengeluarkan darah.
Menyiram tubuh dengan air keras hingga pakaian yang dikenakan hancur lumat namun kulit tetap utuh.
Menggoreng telur di atas kepala.
Membakar tubuh dengan api.
Berjalan di atas serpihan kaca atau beling.
Busana yang digunakan dalam pertunjukkan kesenian debus didominasi oleh warna hitam yang terdiri dari:
1. Baju Kampret yaitu baju tanpa kerah yang mempunyai kantong 2 buah dibagian bawah kin dan kanan, serta bertangan panjang.
2. Celana Pangsi yaitu celana yang dibuat tanpa ikat pinggang. Jika dipakai digulung seperti memakai sarung dan banu diberi ikat pinggang. Ukuran bagian kaki cukup lebar untuk memudahkan bergerak dalam beratraksi.
3. Lomar (Ikat Kepala) terbuat dari kain batik, berbentuk segi tiga atau segi empat yang dilipat menjadi segi tiga.
Ada beberapa hal yang harus dipersiapkan untuk melakukan kesenian Debus ini yaitu sebagai berikut:
Pelaku/ Pemain yang terdiri dari pemimpin, pezikir, pemain, dan penabuh.
Peralatan permainan terdiri atas debus dengan gada nya, golok, pisau, beling/ serpihan kaca, dan lain-lain.
Alat musik untuk pingiring permainan debus terdiri atas gendang besar, gendang kecil, rebana, dan kecrek.
Menyaksikan kesenian Debus membutuhkan kekuatan mental tertentu karena mungkin akan mengakibatkan efek yang tidak diinginkan seperti terbayang- bayang akan kejadian tersebut. Aura mistis seringkali timbul saat pertunjukkan kesenian ini dimulai. Walaupun memiliki aura mistis permainan debus adalah salah satu kesenian budaya yang ada di negeri kita.
Dari berbagai macam pertunjukan tradisi yang ada di nusantara sebenarnya memiliki suatu arti yang bermakna dengan suatu nilai-nilai yang juga bermakna bagi kehidupan di suatu wilayah. Banyak kesenian dan tradisi di Indonesia yang memiliki makna dan tujuan tersendiri, mulai dari tradisi untuk upacara adat hingga penyambutan tamu agung. Banyaknya tradisi ini tentunya menjadi kewajiban kita kaum muda untuk memelihara agar tidak hilang. Seperti kita ketahui bahwa budaya dari luar negeri sekarang ini sudah menjajah negara kita, padahal budaya tersebut belum tentu sesuai dengan karakter kita sebagai Bangsa Indonesia yang terkenal dengan tradisi ketimurannya.
Debus memang merupakan kesenian yang berbau mistis. Tapi bernuansa islami. Pemain kesenian Debus sendiri bukan orang sembarangan. Mereka para pemain itu telah melalui dan melakukan banyak hal sebelum menjadi kebal seperti itu. Sebab pertunjukan debus lekat dengan maut. Wajar jika masyarakat umum merasa bergidik dan ngeri melihat pertunjukan debus.
Dalam acara-acara dan kegiatan resmi di Banten, kesenian debus ini kerap dipertontonkan sebagai acara pembuka. Sehingga debus pun dengan sendirinya sangat dikenal luas sebagai kesenian asal Banten. Bahkan sejak tahun 2014 telah digelar Festival Debus se-Banten yang bertempat di kawasan wisata Banten, seperti pantai Anyer. Tak heran kesenian debus semakin populer di kalangan masyarakat.
Apalagi kini debus telah ditetapkan sebagai warisan budaya tak benda asli Indonesia. Maka tugas kita semua menjaga kelestarian kesenian ini. Agar kini, nanti dan selamanya orang akan ingat. Debus, antara seni dan mistis asal Banten. (EP)
Sumber
http://membacamembukamata.blogspot.com/2012/06/seni-debus.html?m=1
https://id.m.wikipedia.org/wiki/Debus_(seni)
http://kumpulantradisiunikdiindonesia.blogspot.com/2016/09/tradisi-mengerikan-atraksi-debus-di.html?m=1
https://infobanten22.blogspot.com/2012/03/seni-debus.html?m=1
https://www.google.com/amp/s/prosessosial.wordpress.com/2014/12/14/kesenian-debus-dalam-era-globalisasi/amp/
https://www.kompasiana.com/denik13/5b2e47eedd0fa8587d313742/debus-kesenian-yang-membuat-banten-terdengar-mistis?page=3
