Eksistensi Kesenian Debus di Indonesia

Eksistensi Kesenian Debus di Indonesia

Indonesia memiliki beragam kesenian tradisional. Hal ini merupakan aset berharga yang dimiliki oleh bangsa Indonesia untuk memperkenalkan kepada masyarakat Internasional, sehingga kita mampu mengharumkan nama bangsa, salah satunya lewat kebudayaan yang kita miliki. Seni tradisional sebagai warisan budaya dari para leluhur akan terjaga kelestariannya, apabila mendapat dukungan dari masyarakatnya. Selain itu, pemerintah dan dinas kebudayaan wajib berperan aktif dalam melestarikan kesenian tradisional yang kita miliki. Seni tradisional akan mengalami perkembangan atau malah akan terjadi degradasi (kemunduran), jika masyarakatnya itu sendiri tidak lagi berpijak pada nilai-nilai tradisi.

Selera masyarakat terhadap kesenian dapat berubah-ubah sesuai dengan perkembangan jaman. Hal ini pun terlihat jelas dalam program-program acara media televisi swasta bahkan media lainnya seperti internet yakni media sosial twitter, youtube, facebook, dan lain sebagainya. Dimana media massa saat ini lebih sering menayangkan kesenian-kesenian asing yang kenyataannya budaya luar begitu cepat diserap oleh masyarakat Indonesia, baik disadari maupun tidak peristiwa ini akan menghambat perkembangan seni tradisional. Apalagi dipertegas oleh munculnya kesenian-kesenian baru yang dianggap lebih menarik, seperti halnya kesenian yang terutama datang dari negara asing barat maupun dari dalam Asia itu sendiri, ini biasanya lebih di gandrungi terutama oleh kaum generasi muda.
Kesenian tradisional, khususnya dalam seni bela diri yang dimiliki Indonesia banyak jenisnya, seperti pencak silat, benjang, tarung derajat, silek minangkabau, dan sebagainya. Namun, dengan kemajuan teknologi komunikasi dan informasi yang semakin gencar, kesenian-kesenian jenis ini mengalami kesulitan untuk berkembang salah satunya ialah kesenian bela diri debus yang kini kuantitas pementasannya dirasakan berkurang, akan tetapi pada pertengahan tahun 2014 kemarin pementasan debus berhasil meraih rekor MURI dalam pergelaran festival debus di Banten. Yang dimana hal tersebut di nilai sebagai masa jaya debus di zaman modern saat ini.

Berhubung seni bela diri debus masih ada daya tariknya pada kawula muda. Kawula muda seperti pelajar SD, SMP, SMA maupun Mahasiswa sekalipun bisa mengikuti pembelajaran seni bela diri debus. Karena masyarakat Serang sendiri terbuka dan sangat apresiasi apabila generasi muda saat ini dapat ikut melestarikan kebudayaan seni bela diri debus di wilayahnya sendiri. Dimana kebudayaan yang sudah melekat saat mereka dilahirkan dan dibesarkan dalam keberadaan kesenian yang sudah ada turun temurun pada masa kejayaannya.

Pada saat ini banyak pendekar debus yang tinggal di Desa Walantaka, Kecamatan Walantaka, Kab. Serang. Namun sayangnya keberadaan debus makin lama semakin berkurang, karena para pemain debus mulai mencari pekerjaan yang lebih menjanjikan, mereka menilai penghasilan dari bermain debus kurang menjanjikan. Selain itu generasi muda juga telah termakan arus globalisasi mereka cenderung menyukai teknologi.

Memang saat ini zaman telah berubah, bukan lagi zaman penjajahan, dahulu Debus digunakan sebagai alat pertahanan diri dari serangan tentara kolonial, dan ini meninggalkan sebuah citra Banten, yaitu Banten tanah Jawara.
Seiring perubahan zaman, Zaman penjajahanpun telah berakhir, kini Debus beralih fungsi, saat ini Debus digunakan sebagai hiburan. Untuk hiburan pun Debus kalah saing, karena Globalisasi telah membawa hiburan yang lebih menarik untuk masyarakat Indonesia terutama di Banten, sehingga Debus semakin terpinggirkan.

Pemerintah saat ini kurang memperhatikan Kesenian Debus, itulah yang dirasakan oleh para pemain debus. Tetapi Pemerintah juga tidak hanya tinggal diam dan menerima pendapat begitu saja.Pada tanggal 21 juni 2014 telah diadakan Festival Debus Banten 2014, Pemerintah juga ikut bekerja sama dalam acara tersebut.

Secara perkembangannya, dengan citra negatif itu kesenian debus bisa bertahan di Serang. Tetapi dengan dilihat dari sisi positif kesenian debus itu sendiri yang mana sampai saat ini masih ada eksistensinya.

Tradisi debus di masyarakat banten sudah tidak asing lagi diperbincangan mengenai keabsahan dan perkembangan kebudayaan yang memperkenalkan keberanian kepada masyarakat dunia.

Sampai saat ini, debus telah menjadi daya tarik sendiri untuk turis local maupun mancanegara yang melihat tradisi ini sebagai bagian Banten yang unik. Sampai kapanpun tradisi ini tidak akan cepat memudar karena telah menjadi ajang dan wahana dalam mengisi acara masyarakat Banten. Seperti: acara pernikahan, acara kenaikan kelas, pesta kemerdekaan RI, menyambut tamu Agung, pentas kebudayaan Nasional dan lain sebagainya.

Posting Komentar

Send Whatsapp Query