DEBUS
KESENIAN TRADISIONAL MASYARAKAT BANTEN
Banten adalah salah
satu provinsi yang ada di Indonesia dan sekaligus nama suku bangsa asal yang
terdapat di provinsi tersebut. Sebagian orang berpendapat bahwa orang Banten
adalah orang Sunda juga, karena kebudayaan yang ditumbuhkembangkan oleh mereka
pada umumnya sama dengan orang Sunda. Dalam kebahasaan misalnya, orang Banten
menggunakan bahasa yang mereka sebut sebagai "Sunda-Banten", yaitu
bahasa yang menunjukkan beberapa perbedaan dibandingkan dengan bahasa Sunda
yang lain, terutama dalam intonasinya. Lepas dari masalah kesamaan dan
perbedaan kebudayaan yang ditumbuhkembangkan oleh orang Sunda dan orang Banten
itu, yang jelas bahwa Banten adalah sebuah suku bangsa yang ada di Provinsi
Banten (Melalatoa, 1995).
Debus merupakan
kesenian bela diri yang dijumpai di Aceh, Minang, Banten dan lain-lain yang
mempertunjukan kemampuan manusia yang luar biasa, misalnya kebal senjata tajam,
kebal air keras, dan lain- lain. Kesenian ini berawal pada masa pemerintahan
Maulana Hasanuddin dari Banten pada abad-16 (1532-1570). Pada zaman Ageng
Tirtayasa dari Banten (1651—1692), debus menjadi sebuah alat untuk memompa
semangat juang rakyat banten melawan penjajah Belanda pada masa itu. Kesenian
Debus saat ini merupakan kombinasi antara seni tari dan suara
Sebagaimana masyarakat
suku bangsa lainnya di Indonesia, orang Banten juga mempunyai berbagai jenis
kesenian tradisional. Salah satu diantaranya yang kemudian yang kemudian
menjadi label masyarakat Banten adalah debus1). Artinya, jika seseorang
mendengar kata "debus", maka yang terlintas dalam benaknya adalah
"Banten".
Konon, kesenian yang
disebut sebagai debus ada hubungannya dengan tarikat Rifaiah yang dibawa oleh
Nurrudin Ar-Raniry ke Aceh pada abad ke-16. Para pengikut tarikat ini ketika
sedang dalam kondisi epiphany (kegembiraan yang tak terhingga karena
"bertatap muka" dengan Tuhan), kerap menghantamkan berbagai benda
tajam ke tubuh mereka. Filosofi yang mereka gunakan adalah "lau haula
walla Quwata ilabillahil 'aliyyil adhim" atau tiada daya upaya melainkan
karena Allah semata. Jadi, kalau Allah mengizinkan, maka pisau, golok, parang
atau peluru sekalipun tidak akan melukai mereka.
Di Banten pada awalnya
kesenian ini berfungsi untuk menyebarkan ajaran Islam. Namun, pada masa
penjajahan Belanda dan pada saat pemerintahan Sultan Agung Tirtayasa, seni ini
digunakan untuk membangkitkan semangat pejuang dan rakyat Banten untuk melawan
Belanda. Dewasa ini, seiring dengan perkembangan zaman, kesenian ini hanya
berfungsi sebagai sarana hiburan semata.
Pemain
Para pemain debus
terdiri dari seorang syeh (pemimpin permainan), beberapa orang pezikir, pemain,
dan penabuh gendang. 1-2 minggu sebelum diadakannya pertunjukan debus biasanya
para pemain akan melaksanakan pantangan-pantangan tertentu agar selamat ketika
melakukan pertunjukan, yaitu: (1) tidak boleh minum-minuman keras; (2) tidak
boleh berjudi; (3) tidak boleh mencuri; (4) tidak boleh tidur dengan isteri
atau perempuan lain; dan lain sebagainya.
Tempat dan Peralatan Permainan
Permainan debus
biasanya dilakukan di halaman rumah pada saat diadakannya acara-acara lain yang
melibatkan banyak orang. Peralatan yang digunakan dalam permainan adalah: (1)
debus dengan gada-nya (2) golok yang digunakan untuk mengiris tubuh pemain
debus; (3) pisau juga digunakan untuk mengiris tubuh pemain; (4) bola lampu
yang akan dikunyah atau dimakan (sama seperti permainan kuda lumping di Jawa
Tengah dan Timur; (5) panci yang digunakan untuk menggoreng telur di atas
kepala pemain; (6) buah kelapa ; (7) minyak tanah dan lain sebagainya.
Sementara alat musik pengiringnya antara lain: (1) gendang besar; (2) gendang
kecil; (3) rebana; (4) seruling; dan (5) kecrek.
Jalannya Permainan
Permainan debus pada
umumnya diawali dengan mengumandangkan beberapa lagu tradisional (sebagai lagu
pembuka atau "gembung"). Setelah gembung berakhir, maka dilanjutkan
dengan pembacaan zikir dan belum atau macapat yang berisi puji-pujian kepada
Allah Swt dan Nabi Muhammad Saw. Tujuannya adalah agar mendapat keselamatan selama
mempertunjukkan debus. Setelah zikir dan macapat selesai, maka dilanjutkan
dengan permainan pencak silat yang diperagakan oleh satu atau dua pemain tanpa
menggunakan senjata tajam.
Kegiatan selanjutnya
adalah permainan debus itu sendiri yang berupa berbagai macam atraksi, seperti:
menusuk perut dengan menggunakan debus; mengupas buah kelapa dan memecahkannya
dengan cara dibenturkan ke kepala sendiri; memotong buah kelapa dan membakarnya
di atas kepala; menggoreng telur dan kerupuk di atas kepala; menyayat tubuh
dengan sejata tajam seperti golok dan pisau; membakar tubuh dengan minyak tanah
atau berjalan-jalan di atas bara api; memakan kaca dan atau bola lampu;
memanjat tangga yang anak tangganya adalah mata golok-golok tajam dengan
bertelanjang kaki; dan menyiram tubuh dengan air keras.
Sebagai tambahan, pada
atraksi penusukan perut dengan menggunakan debus, seorang pemain memegang
debus, kemudian ujungnya yang runcing ditempelkan ke perut pemain lainnya.
Setelah itu, seorang pemain lain akan memegang kayu pemukul yang disebut gada
dan memukul bagian pangkal debus berkali-kali. Apabila terjadi
"kecelakaan" yang mengakibatkan pemain terluka, maka Syeh akan
menyembuhkannya dengan mengusap bagian tubuh yang terluka disertai dengan
membaca mantra-mantra, sehingga luka tersebut dalam dapat sembuh seketika.
Kemudian, ketika atraksi penyayatan tubuh dengan sejata tajam seperti golok dan
pisau, pemain akan menusukkan senjata tersebut ke beberapa bagian tubuhnya
seperti:: leher, perut, tangan, lengan, dan paha. Namun, melakukannya, ia
mengucapkan mantra-mantra agar tubuhnya kebal dari senjata tajam. Salah satu
contoh mantranya adalah: "Haram kau sentuh kulitku, haram kau minum
darahku, haram kau makan dagingku, urat kawang, tulang wesi, kulit baja, aku
keluar dari rahim ibunda. Aku mengucapkan kalimat la ilaha illahu". Dan,
ketika atraksi pemakanan kaca dan atau bola lampu, yang dimuntahkan bukannya
serpihan kaca melainkan puluhan ekor kelelawar hidup.
Nilai Budaya
Permainan debus yang
dilakukan oleh masyarakat Banten, jika dicermati secara mendalam, maka di
dalamnya mengandung nilai-nilai yang dapat dijadikan sebagai acuan dalam
kehidupan bersama dan bekal kehidupan di kemudian hari. Nilai-nilai itu antara
lain kerja sama, kerja keras, dan religius.
Nilai kerja sama
tercermin dalam usaha para pemain yang saling bahu-membahu dalam menunjukkan
atraksi-atraksi debus kepada para penonton. Nilai kerja keras tercermin dalam
usaha pemain untuk dapat memainkan debus. Dalam hal ini seseorang yang ingin
memainkan debus harus berlatih secara terus menerus sambil menjalankan
syarat-syarat dan pantangan-pantangan tertentu agar ilmu debusnya menjadi
sempurna. Dan, nilai religius tercermin dalam doa-doa yang dipanjatkan oleh
para pemain. Doa-doa tersebut dibacakan dengan tujuan agar para pemain selalu
dilindungi dan mendapat keselamatan dari Allah SWT selama menyelenggarakan
permainan debus. (ali gufron)
Di daerah banten tak
hanya orang dewasa yang bermain debus namun anak anak pun sudah di kenal kan
dalam permainan debus,karna untuk apa agar anak anak terbiasa dalam permainan
tradisional tersebut ditak melupakan nya dan terus di lestarikanan.