ASAL
MUASAL DEBUS

Debus adalah suatu kesenian yang mempertunjukan
kemampuan manusia yang luar biasa, kebal senjata tajam, kebal api, minum air
keras, memasukan benda kedalam kelapa utuh, menggoreng telur di kepala dan
lain-lain. Debus lebih dikenal sebagai kesenian asli masyarakat Banten, yang
mungkin berkembang sejak abad ke 18. Namun, pernahkah orang bertanya-tanya
darimana sebenarnya asal debus tersebut?
Definisi Kata Debus
Menurut pensiunan Kepala Seksi Kebudayaan
Kandepdikbud Kabupaten Serang, (Alm) Tb A Sastra Suganda, debus berasal dari
kata tembus. Ada juga yang menyebutkan bahwa debus berasal dari kata gedebus,
yaitu nama salah satu benda tajam yang digunakan dalam pertunjukan kekebalan
tubuh. Benda tajam tersebut tebuat dari besi, dan digunakan untuk melukai diri sendiri.
Oleh karena itu kata debus dapat diartikan sebagai tidak tembus.
Debus merupakan kesenian asli masyarakat Banten yang
diciptakan pada abad ke-16, yaitu tepatnya pada masa pemerintahan Sultan
Maulana Hasanuddin (1532-1570), dalam rangka penyebaran agama Islam. Agama
Islam diperkenalkan ke Banten oleh Sunan Gunung Jati, salah satu pendiri
Kesultanan Cirebon, pada tahun 1520, dalam ekspedisi damainya bersamaan dengan
penaklukan Sunda Kelapa. Kemudian, ketika kekuasaan Banten dipegang oleh Sultan
Ageng Tirtayasa (1651-1682), debus difokuskan sebagai alat untuk membangkitkan
semangat para pejuang dalam melawan penjajah Belanda. Apalagi, di masa
pemerintahannya tengah terjadi ketegangan dengan kaum pendatang dari Eropa,
terutama para pedagang Belanda yang tergabung dalam VOC. Kedatangan kaum
kolonialis ini di satu sisi membangkitkan semangat jihad kaum muslimin
Nusantara, namun di sisi lain membuat pendalaman akidah Islam tidak merata,
yaitu terjadinya percampuran akidah dengan tradisi pra-Islam. Hal ini yang
terdapat pada kesenian debus.
Bentuk Atraksi Debus
Permainan debus merupakan bentuk kesenian yang
dikombinasikan dengan seni tari, seni suara dan seni kebatinan yang bernuansa
magis. Kesenian debus biasanya dipertunjukkan sebagai pelengkap upacara adat, atau
untuk hiburan masyarakat. Pertunjukan ini dimulai dengan pembukaan (gembung),
yaitu pembacaan sholawat atau lantunan puji-pujian kepada Nabi Muhammad, dzikir
kepada Allah, diiringi instrumen tabuh selama tiga puluh menit. Acara
selanjutnya adalah beluk, yaitu lantunan nyanyian dzikir dengan suara keras,
melengking, bersahut-sahutan dengan iringan tetabuhan.
Bersamaan dengan beluk, atraksi kekebalan tubuh
didemonstrasikan sesuai dengan keinginan pemainnya : menusuk perut dengan gada,
tombak atau senjata almadad tanpa luka; mengiris anggota tubuh dengan pisau
atau golok; makan api; memasukkan jarum kawat ke dalam lidah, kulit pipi dan
angggota tubuh lainnya sampai tebus tanpa mengeluarkan darah; mengiris anggota
tubuh sampai terluka dan mengeluarkan darah tapi dapat disembuhkan seketika itu
juga hanya dengan mengusapnya; menyiram tubuh dengan air keras sampai pakaian
yang dikenakan hancur lumat namun kulitnya tetap utuh.
Selain itu, juga ada atraksi menggoreng kerupuk atau
telur di atas kepala, membakar tubuh dengan api, menaiki atau menduduki tangga
yang disusun dari golok yang sangat tajam, serta bergulingan di atas tumpukan
kaca atau beling. Atraksi diakhiri dengan gemrung, yaitu permainan alat-alat
musik tetabuhan.
Kesenian debus tidak hanya terdapat di Banten, namun
telah merambah ke daerah-daerah lainnya seperti Garut dan Sidoarjo. Perguruan
Debus Pancawarna yang terletak di Garut mempelajari gabungan lima jenis ilmu
bela diri, yaitu pencak silat, rudat, lais, sucipta dan debus itu sendiri. Pada
awalnya, Mi’an, guru utama perguruan, mewajibkan kepada setiap penonton
melafalkan syahadat untuk meyakinkan keteguhan mereka pada Islam. Namun,
seiring perkembangan zaman, aturan itu dihapus.
Pertunjukkan Seni Debus Salah satu kesenian debus
yang cukup populer di Banten adalah Seni Debus Surosowan Banten di Kecamatan
Walantaka Serang yang dipimpin oieh Moh. Idris. Persyaratan yang harus ditempuh
untuk mempertunjukkan debus Surosowan adalah sebagai berikut : Melakukan puasa
selama 40 hari Setiap selesai sholat fardu membaca Bismillah sebanyak-bayaknya.
Membaca wiridan sebanyak sebelas kali Harus yakin dengan apa yang dipelajarinya
dan diamalkannya Menjauhi larangan yang telah ditetapkan dalam agama Islam
Tahap-tahap pertunjukkan debus dilakukan sebagai berikut: 1. Pembukaan
(Gembung), yaitu pembacaan sholawat dan puji-pujian yang diiringi instrumen
musik tabuh selama 2 3 menit 2. Pelaksanaan dzikir kepada Allah dan sholawat
kepada Nabi serta para Sahabatnya sambil diiringi tabuh musik 3. Beluk, yaitu
nyanyian yang dibawakan oleh pendzikir dengan suara keras, melengking,
bersahutsahutan dan diiringi dengan tabuh tabuhan. Beluk ini dilakukan sampai
dengan pertunjukkan berakhir 4. Silat, ketika beluk dimulai maka keluarlah satu
orang atau dua orang yang pesilat mendemonstrasikan kebolehannya dalam bersilat
dengan tangan kosong 5. Permainan Debus, dua orang menggunakan peralatan debus
: satu orang memegang Al-Madad (Gedebus) ditempelkan keperutnya dan satu orang
lagi memegang pemukul atau gada yang siap dipukulkan ke Al-Madad 6. Mengupas
kelapa dengan menggunakan gigi. Setelah kelapa selesai dikupas dipecahkan dan
dipukulkan ke kepala hingga pecah. Setelah kelapa tersebut pecah maka dimakan
berikut tempurungnya 7. Mengerat bagian tubuh seperti lengan, betis dan paha
dengan menggunakan pisau atau parang 8. Menggoreng kerupuk dan telur di atas
kepala. Di atas kepala seorang pemain diletakkan sejenis tungku api yang
terbuat dari buah kelapa yang dibelah, kemudian diisi dengan kain yang sudah
direndam dengan minyak tanah lalu dibakar. Setelah api menyala maka diletakkan
wajan yang telah diisi dengan minyak kelapa dan setelah mendidih barn
dimasukkan telur dan kerupuk untuk digoreng 9. Membakar anggota tubuh dengan
api dan menyisir rambut dengan api 10. Menaiki dan menduduki tangga golok yang
tajam 11. Memakan kaca Gemrung, yaitu permainan instrumen untuk mengakhiri
pertuniukkan Dewasa ini kesenian debus biasanya dipertunjukkan sebagai
pelengkap upacara adat, upacara Magic dan untuk menghibur masyarakat.
Ada pula kelompok debus yang tergabung dalam grup
musik Alga Nada pimpinan Gus Kholiq. Bentuk kesenian yang berasal dari daerah
Waru ini tidak jauh berbeda dengan atraksi kesenian debus Banten, namun diawali
dengan adegan meminum air putih yang telah diberi doa-doa oleh Gus Kholiq.
Atraksi kelompok ini pernah dipertunjukan di Pendopo Delta Krida Budaya, Kantor
Dinas Pariwisata, Budaya, Pemuda dan Olahraga Sidoarjo, dalam acara pengukuhan
Dewan Kesenian Sidoarjo periode 2001-2004.
Debus juga merupakan salah satu unsur dalam kesenian
terebang sejak dan gebes, sejenis kesenian perkusi di desa Cikeusal, wilayah
Priangan Timur, yang bersifat kontemplatif, yaitu bentuk kesenian yang mengajak
masyarakat untuk merenung atau ber-tafakkur. Lagu-lagu yang ditembangkan adalah
sholawat Al-Barjanzi dan Al-Daiba.
Tokoh Spiritual Debus
Salah satu tokoh spiritual debus asal Banten yang
hendak dikemukakan dalam tulisan ini adalah Tubagus Barce Banten atau Abah
Barce. Ia cukup dikenal di kalangan penduduk Banten sebagai pemimpin spiritual
debus ‘modern’. Konon, ia sanggup menyembuhkan berbagai macam penyakit yang tak
dapat disembuhkan dengan pengobatan kedokteran masa kini. Ia juga sering
dipanggil sebagai penasihat pribadi masalah-masalah spiritual oleh kalangan
elit politis Jakarta.
Abah Barce berperan penting dalam memperkenalkan
kesenian debus hingga keluar negeri, seperti Amerika Serikat, Australia,
Jerman, Jepang, Malaysia, Spanyol, dan Belanda. Ia mendapat gelar doktor
kehormatan dari Universitas Amsterdam pada tahun 1985. Selain itu, ia adalah ketua
Perkumpulan Paranormal Indonesia cabang Banten sejak Mei 2003, ketua
Perkumpulan Judo-Karate-Silat Banten, dan pendiri Laskar Islam Banten pada
tahun 1999.
Menurut Abah Barce, debus tidak ada kaitannya dengan
dunia mistis atau magic, tidak seperti anggapan kebanyakan orang selama ini,
karena magic itu sama dengan perbuatan syirik (menyekutukan Allah). Ia juga
mengatakan bahwa debus digunakan oleh para alim ulama zaman dahulu untuk
melawan penjajah.