APAKAH DEBUS ITUPERBUATAN SESAT??

Indonesia adalah negara dengan kekayaan, keberagaman, dan keindahannya yang luar biasa. Selain pepohonan, pemandangan, dan kesejukan, budaya pun tumbuh mememriahkan pesona bumi pertiwi ini. Warisan para leluhur, ritual, dan adat pun masih digenggam erat oleh beberapa lapisan masyarakat.
Namun malangnya, rasa cinta tanah air, semangat melindungi bangsa dan negara, menjaga keanekaragaman luntur sedikit demi sedikit, hilang sedikit demi sedikit. Semua dikalahkan oleh gengsi. Budaya barat bermunculan dan berteriak di daun telinga masyarakat "ini adalah budaya barumu, budaya barat". Hilang semua rasa cinta terhadap bangsa. Luntur sudah.
Walaupun banyak orang yang gengsi, banyak orang yang takut padaku, wkwkwkwkw. Tak membuat saya menjauhi seni yang saya cintai. Justru saya adalah salah satu penentang bagi orang yang gengsi terhadap seni dan budaya negaranya sendiri. Saya tak pernah memperdulikan gengsi. Ini bangsaku, ini tempat tinggal ku, dan ini budayaku. "Hargai seniku! maka akan ku hargai dirimu".
Salah satu seni yang melekat dalam jiwa saya adalah seni pertunjukan Debus. Beberapa orang menyimpulkan bahwa seni ini merupakan seni yang sesat, bermain jin, menyiksa diri. Pasalnya, seni pertunjukan ini menampilkan pertunjukan yang extreme dan tidak masuk akal. Semua orang awam yang mendengarpun ikut mengambil kesimpulan. "Debus ini gak layak untuk dilihat".
Sedikit cerita, saya pernah tinggal dan dibesarkan di Cikampek tepatnya desa Kamojing. Dari kecil, saya sering sekali melihat pertunjukan yang sering kita sebut sebagai Debus ini. Pasalnya, setiap ada yang merayakan khitanan, pasti ada pertunjukan sisingaan. Setiap selesai arak-arakan menggunakan sisingaan tersebut, anggota sisingaan mulai menurunkan anak-anak yang ada diatas sisingaan dan melanjutkan menari di tengah lapang luas.
Penonton mulai menjauh ketika semua sisingaan selesai menari karena akan ada pertunjukan yang sangat spektakuler.
Suara pecut mulai terdengar menggelegar, beberapa orang mulai dilukai dengan benda padat seperti genting, bolham, tendangan, pukulan. Pertunuukan ini berlangsung selama berjam-jam. Siapa yang nonton? ya banyaknya bocah-bocah ingusan yang ga pernah ngebersiin ingusnya. Apakah kita semua menirukannya? tentu tidak kawan. Mereka hanya menonton.
Ini adalah seni. Dan seni adalah salah satu media. Media untuk berdakwah. Seperti wayang golek, wayang kulit dan lainnya.
Begitupun dengan debus. Ini adalah seni yang dikembangkan dari dulu. Faktanya, Debus ini adalah media dakwah pada zaman dahulu. Dih aneh, debus kan pake jin. mana ada orang bisa kebal senjata kalo ga pake jin udah gitu buat dakwah coba. Oh ya jelas bukan pake jin. Nih dengerin yah! Memang debus adalah seni yang terlihat extreme, serem, menakutkan, ga ada imut-imutnya sama sekali.
Mau tau permainannya? saya sebutkan 1 saja, mengiris tubuh dengan benda tajam. Ih seremmm. Tapi kalo anda semua sudah memperdalam dan mempelajarinya, ini akan menjadi hal yang biasa saja. Sama saja seperti pertunjukan lain, sama seperti beladiri lain. Tanpa mantra, pertunjukan pun tetap bisa bekerja.
Kembali ke sejarah.
Pada zaman dahulu tepatnya abad-16 (1532-1570), pada masa pemerintahan Maulana Hasanuddin dari banten tercatat sebagai masa dimana awalnya seni debus ini dimulai. Dan pada zamannya Ageng Tirtayasa dari banten tepatnya tahun 1651-1692, debus ini menjadi senjata dan tombak untuk mengaktifkan semangat juang bagi para pejuang banten untuk melawan penjajah. Seiring berjalannya waktu, perkembangan demi perkembangan dan semakin bergulirnya waktu, kini seni debus menjadi seni pertunjukkan yang digabungkan dan dikolaborasikan, yaitu perpaduan antara seni tari dan musik.
Ada beberapa versi sejarah mengenai kesenian debus ini. Debus dikenal sebagai kesenian khas Banten yang berkembang sejak abad ke-18. Debus ini dikenal luas di wilayah banten sebagai media dakwah dan penyebaran agama Islam. Namun ada juga yang menyebutkan kalau seni debus ini berasal dari daerah timur tengah bernama almadad. Yang lainnya menyebutkan bahwa debus berasl dari tarekat Rifa'iyah Nuruddin Al-Raniri yang masuk ke banten oleh para pengawal Cut Nyak Diem.
Yang manapun versinya, yang jelas sekarang kita tahu, kalau seni Debus ini adalah media dakwah dan penyebaran agama Islam. Pasalnya, mereka (pelaku debus di zaman dulu) membaca dzikir dan shalawat sebelum memulainya. mereka melantunkan shalawat dan menanamkan dzikir dalam hatinya dalam setiap gerakan. Amazing bukan?!?!
So... apakah menyebarkan agama menggunakan jin? mustahil kawan.
Saya berani menulis artikel ini karena saya mencintai seni ini. Saya belajar dari teman teman saya. Yang melakukannya dengan ritual sampai yang melakukan ini tanpa persiapan. Akhirnya, saya menyimpulkan bahwa debus itu tidak sesat.
Lah kok? kenapa orang orang pada kekeh banget kalau debus itu permainan jin?
Karna yang mereka lihat hanya pertunjukannya, mereka belum pernah melihat apa isi dan filosofi dibalik pertunjukkan ini. "Apapun yang kita lihat, apapun yang kita rasakan, cari kebenaran bukan mengambil kesimpulan tanpa kebenaran"
Oke, jadi segitu aja.
So, kita harus mengembangkan dan melestarikan seni-seni dan tradisi yang ada Indonesia ini. Minimal mah seni di daerahnya masing-masing aja dulu. Kupas tuntas adat dan seninya, cari filosofinya karena itu yang kita cari dari seni.
Indonesia maju.
Next time InshaAllah saya akan bahas tentang jenis pertunjukan debus. Stay terus ya kawan.
Komisi Fatwa
Majelis Ulama Indonesia se-Jawa dan Lampung mengeluarkan fatwa bahwa kesenian
tradisional debus dengan menggunakan bantuan jin, setan, dan mantera-mantera,
hukumnya adalah haram karena termasuk kategori sihir. Ketua MUI Provinsi Banten
bidang Ormas dan Hubungan Luar Negeri KH Aminuddin Ibrahim di Serang, Rabu
mengatakan, dalam rakorda MUI se-Jawa dan Lampung tersebut dibahas bahwa debus
dan atraksi-atraksi sejenisnya dalam pandangan Islam ada yang dibolehkan namun
ada yang tidak dibolehkan.<> Menurut Aminuddin , di antaranya yang tidak
dibolehkan tersebut adalah atraksi-atraksi yang menggunakan bantuan tenaga jin,
setan atau mantera-mantera karena termasuk sihir dan perbuatan syirik termasuk
didalamnya debus yang menggunakan kekuatan tersebut maupun dengan ayat-ayat
qur'an yang dibolak-balik. "Tetapi kalau kemampuan itu diperoleh dari
latihan keterampilan dan olah tubuh tidak ada masalah asal jangan
dicampur-campur juga," katanya usai penutupan rakor tersebut. Aminuddin
mengatakan, fatwa tersebut bukan bertujuan menghilangkan nilai seni dan budaya
dari debus yang selama ini menjadi ciri khas atau ikon suatu daerah seperti di
Banten, tetapi berlaku untuk di semua daerah mana pun juga , sepanjang debus
atau atraksi sejenis menggunakan kekuatan-kekuatan setan, jin atau
mantera-mantera. Dalam fatwa tersebut, MUI menimbang bahwa debus serta hal-hal
lain yang sejenis akhir-akhir ini semakin merebak dengan bebas dan tersiar
secara luas di tengah-tengah masyarakat, baik melalui media cetak dan
elektronik, maupun media komunikasi modern. Dengan demikian, dalam kenyataan
debus telah menimbulkan berbagai dampak negatif bagi umat Islam khususnya dan
bangsa Indonesia umumnya, terutama generasi muda pada akidah Islamiyah maupun terhadap
sendi-sendi kehidupan masyarakat yang beradab dan berilmu pengetahuan. Selain
itu debus sudah menjadi ikon suatu daerah dan sebagian besar umat Islam dan
bangsa Indonesia, baik masyarakat umum maupun para penyelenggara negara,
dianggap belum memberikan perhatian maksimal dan belum mengetahui secara tepat
pandangan Islam terhadap debus serta hal-hal terkait lainnya. Selain fatwa
tentang debus, maka rakor ke VII MUI se-Jawa dan Lampung di Serang 11-12
Agustus tersebut yang dihadiri sekitar 150 peserta juga mengeluarkan fatwa
mengenai hipnotis dan hukum khitan bagi perempuan yang masih terdapat perbedaan
antara wajib dan sunat.