AKULTURASI ISLAM DALAM KESENIAN DEBUS
![]() |
Debus bisa diterapkan melalui
sarana latihan fisik dan rohani. Tradisi debus diambil dari Tarikat
al-Rifa'iyah , sehingga debus dikenal pula dengan sebutan Rifa’i, atau al-Madad
(dalam permainan disebut kata al-Madad/ penolong).
Debus merupakan permainan yang
mengandalkan kekebalan tubuh dari benda tajam dan panas api. Hal itu tentunya
tidak bisa dilepaskan dari praktek-praktek magisme yang dilakukan oleh para
pelakunya.
Praktek magise dalam permainan
debus merupakan campuran eklektik dari agama Islam, khususnya dari tradisi
tarekat, dan dari tradisi yang telah berkembang di masyarakat pra-Islam di
Banten. Kekebalan dan kesaktian sejak masa pra-Islam memang dipentingkan dan
dicari orang banyak di Nusantara.
Bentuk kesenian debus tercermin
dari kegiatan masyarakat sehari-hari, yang didasari atas ucapan dan doa yang
dipanjatkan kepada Tuhan YME agar selalu diberikan pertolongan, perlindungan,
serta keselamatan didalam menjalani kehidupan.
Debus di sini dijadikan sebagai
simbol masyarakat Banten yang pada intinya dalam setiap tindakan yang kita
jalani harus selalu berdoa kepada Tuhan YME agar dalam setiap langkah mendapat
keberkahan dan dijauhkan dari perbuatan yang tidak baik.
Seiring dengan perkembangan
zaman, kesenian debus saat ini sudah mengalami akulturasi dengan tradisi lokal
lainnya yang ada di Banten dan unsur-unsur lokal dari Pra-Islam. Sehingga
dengan proses akulturasi tersebut, maka terkadang sulit untuk membedakan secara
tegas antara ritual tarekat di satu sisi dan ritual debus hasil adopsi tradisi
lokal di sisi lain.
Dengan mengalami akulturasi,
kesenian debus dengan tradisi lokal bahkan teknologi modern, maka secara tanpa
disengaja, kesenian ini pun mengalami penyusutan kemurniannya, atau dengan kata
lain, debus sudah mengalami pergeseran.
Namun, adaptasi Islam dengan
budaya lokal yang terdapat pada debus tersebut sebagai sesuatu yang tak
terhindarkan agar Islam diterima mayoritas penduduk lokal, namun adaptasi
tersebut sering menimbulkan ketegangan-ketegangan antara keharusan untuk
mempertahankan ontentisitas Islam dengan kebutuhan-kebutuhan praktis dan
populer yang telah dianut secara luas oleh masyarakat lokal di Indonesia.
Khususnya tanpa menghilangkan beberapa pengecualian tentang proses penyebaran Islam
di Indonesia, namun secara umum proses Islamisasi di Indonsia berlangsung
secara damai.
Karena itu, masyarakat
Indonesia merupakan satu dari sedikit wilayah di dunia yang mengalami proses
Islamisasi penduduknya tanpa kekuatan militer. Islam menyebar ke sejumlah
wilayah di Nusantara melalui jalur perdagangan dan jaringan tarekat yang sangat
akomodatif terhadap budaya-budaya lokal. Para penyebar sufi-pedagang
mempergunakan simbol-simbol budaya dan pranata sosial lokal yang telah ada
untuk menghadirkan Islam di tengah kehidupan masyarakat Nusantara.
Dalam legenda para wali sering
diceritakan bahwa kemenangan Islam sering dihubungkan dengan keunggulan zikir
dan wirid para wali Islam atas jampi atau mantra Hindu-Budha atau animisme.
Karena itu banyak orang yang berasumsi bahwa pesatnya perkembangan Islam pada
masa-masa awal di Nusantara melalui jalur tarekat, karena ajarannya yang dekat
dengan budaya masyarakat Nusantara.
Banyak orang yang masuk tarekat
bukan karena untuk meningkatkan kesadaran spiritual mereka dengan mensucikan
jiwanya, tetapi mereka mengharapkan mendapat “ilmu” yang kuat, yakni kesaktian
dan kedigjayaan. Selama ini memang ada beberapa tarekat yang dikenal secara
luas oleh masyarakat seperti: Qodiriyah, Rifaiyah dan Sammaniyah, yang mengajarkan
amalan atau wirid tertentu untuk praktek-praktek kekebalan tubuh dari benda
tajam dan api kepada para muridnya.
Seni tradisional debus
dilakukan melalui berbagai macam atraksi, seperti memecahkan buah kelapa dengan
cara dibenturkan ke kepala sendiri, menggoreng telur dan kerupuk di atas
kepala, menyayat tubuh dengan senjata tajam, hingga membakar tubuh dengan
minyak tanah. Selain itu, kesenian debus dikenal sebagai tradisi yang
mengandung unsur mistis dan syarat dengan ajaran spiritual agama.
Hal itu tercermin pada saat
sebelum permainan dilakukan, terlebih dahulu dimulai dengan berbagai ritual
atau doa, dengan maksud meminta perlindungan dan keselamatan kepada Allāh SWT.
Dalam sejarahnya, tradisi debus
tidak bisa dipisahkan dengan ilmu tarekat yang berkembang di Banten, karena
tradisi ini ditengarai bersumber dari ajaran beberapa tarekat. Sultan Hasanudin
sebagai orang yang pertama kali memperkenalkan kesenian ini adalah penganut
ajaran Tarikat al-Rifa'iyah sebagaimana juga dianut oleh mayoritas para penyebar
agama Islam di Banten.
Keeratan debus dengan tarekat
bisa dilihat pada saat akan dimulainya pertunjukan, selalu dimulai dengan
membaca shalawat Nabi, doa-doa, dzikir, serta diikuti ritual tertentu yang
hampir serupa dengan tradisi tarekat-tarekat yang berkembang di Banten.
Diajarkannya wiridan (baca: zikir) yang berasal dari tarekat tertentu
dimaksudkan untuk memudahkan hati murid-murid untuk mendapatkan hidayah dari
Allāh SWT.
Melalui zikir itu, murid-murid
diharapkan bisa sampai kepada tingkatan manusia yang bertaqwa. Apabila seorang
murid mampu mengamalkan zikir itu secara istiqamah, dan ia dianggap telah
menjadi orang yang bertaqwa, maka murid itu akan memperoleh keajaiban-keajaiban
yang secara logika bisa dianggap irrasional, namun secara empirik mengandung
fakta yang valid. Apa yang diperoleh oleh seorang murid tersebut dalam istilah
tasawuf dikenal dengan karamah.
Dalam perkembangannya, debus
sebagai suatu kesenian tradisional khas Banten menjadi tradisi kesenian
keagamaan yang begitu pesat, dan banyak dimainkan oleh masyarakat Banten,
bahkan hingga mutakhir ini. Di samping itu, tradisi debus dikenal tidak hanya
di provinsi Banten semata, melainkan juga dikenal di banyak daerah di
Indonesia.
Dalam sejarah penyebaran Islam
di Nusantara, kesenian debus digunakan sebagai media penyebaran Islam di
kalangan masyarakat Nusantara. Konon, kesenian ini masih ada hubungannya dengan
Tarikat al-Rifa'iyah yang dibawa oleh Nuruddin Ar-Raniry ke Aceh pada abad ke
16. Artinya, debus tidak bisa dipisahkan dengan tarekat dan fakta itu juga
menunjukkan bahwa debus syarat dengan ajaran-ajaran mistis agama.
Kita tahu, Islam datang dan
menyebar di Indonesia banyak dipengaruhi oleh ajaran mistik, yakni Islam Sufi
(tasawuf/tarikat). Di samping itu, Islam
juga diwarnai oleh berbagai aliran, baik dalam bidang aqidah ataupun fiqhiyah.
Pengaruh aliran itu sampai sekarang pun masih sangat kental, terutama di
Banten.
Corak Islam Nusantara itu tak
lepas dari pengaruh intelektual muslim nusantara yang belajar ke Tanah Arab. Sekalipun
pada saat itu pengawasan kolonial begitu ketat, namun tidak sedikit ulama-ulama
Indonesia, termasuk ulama Banten yang menempuh pendidikan di Tanah Arab.
Seperti halnya Syekh Muhammad Nawawi bin Umar Tanara, putra asli Banten yang
belajar dan mengajar di kota suci, Makkah.
Pemikiran Islam khas Nusantara,
khususnya di Banten saat itu berkiblat kepada pemikiran Ki Nawawi (sebutan
akrab Syekh Muhammad Nawawi), baik pemikiran tafsir, fikih, maupun tasawuf.
Karena dianggap sebagai ulama intelektual yang memiliki keluasan dan kedalam
ilmu agama, Syekh Nawawi memperoleh gelar Al-'Allamah (Orang yang sangat
mendalam pengetahuannya tentang agama).
Kitab-kitab yang telah ditulis
dan diterbitkan Syekh Nawawi kurang lebih sekitar 150 kitab yang berisi
pokok-pokok pikirannya dalam berbagai disiplin ilmu. Ketika Syekh Nawawi
berkunjung ke Mesir, ia memperoleh gelar Sayyid 'Ulama al-Hijaz (tokoh/penghulu
ulama Hijaz) yang diberikan langsung oleh ulama-ulama Mesir. Meskipun Ki Nawawi
telah meninggal dunia, setiap tahun pada tanggal 25 Syawal, kewafatannya selalu
diperingati oleh keluarga dan masyarakat Banten di tempat kelahirannya, Tanara.
Selain Kiai Nawawi, ulama
Banten yang juga memiliki keluasan intelektual adalah Kiai Abdul-Karim (Paman
Kiai Nawawi), yang dikenal sebagai ulama yang mengembangkan tarikat Qadiriyah -
Naqsyabandiyah di Banten. Ia telah melahirkan banyak murid-murid yang
bertebaran di Banten, dan tidak sedikit para muridnya menjadi ahli tarikat yang
mengembangkan ilmu hikmat melalui tradisi debus.
Pengaruh tarekat juga merambah
dalam dunia politik, di mana ketika meletus perang Cilegon pada tahun 1888,
yang pelopori oleh K.H.Wasyid dkk, semangat perang itu dijiwai oleh ajaran
tarikat yang dikembangkan oleh Kiai Abdul-Karim . Hanya bermodal parang dan
golok yang diberi sugesti melalui amalan-amalan, serta wirid oleh ahli tarikat
yang mengembangkan ilmu hikmah, mereka mampu melawan Belanda yang pada saat itu
sudah mempunyai peralatan modern yang canggih seperti tank, bedil dan mesin.
Meskipun demikian, perlawan Kiai Wasyid mampu dipukul mundur oleh kompeni.
Dalam kesenian debus saat ini
banyak sekali pergeseran, tidak hanya terjadi pada pergeseran dari segi ritual,
pertunjukan atau perekrutan saja, pergeseran itu juga terjadi pada segi tujuan
permainan debus. Pergeseran ini adalah sebuah kelanjutan dari adanya
pergeseran-pergeseran debus di atas.
Kesenian debus saat ini sudah
mengalami pergeseran dari segi tujuannya dengan debus tempo dulu. Sekarang,
meskipun padepokan debus tumbuh menjamur di mana-mana— baik itu di sekitar
Banten sendiri maupun luar Banten—akan tetapi semuanya lebih menekankan pada
orientasi hiburan daripada tarekat murni Hubungan antara tarekat dan debus saat
ini sudah renggang bahkan bisa dikatakan cerai atau terputus karena debus sudah
beralih orientasi menjadi hiburan yang mendatangkan uang dan aset pariwisata
yang layak jual.
Bahkan sungguh ironi, ketika
penelitian lapangan dan tulisan ini hadir, banyak di antara para guru debus
atau para pemain debus yang tidak mengetahui atau paham kalau sebenarnya
kesenian yang mereka pelajari selama ini berasal dari tarekat.
